Renungan Minggu Sengsara Ketiga – Memandang Dia yang Tertikam
Bacaan Alkitab : Zakharia 12:10-14 dan Yohanes 19:37
Tema : Memandang Dia yang Tertikam
Tanggal : 16 Maret 2025
Shalom………..
Bapak,ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus……………..
Hari ini kita memasuki minggu sengsara ke III dan kita akan merenungkan Firman Tuhan dengan Tema “ Memandang Kepada Dia Yang tertikam”. Zakaria adalah salah seorang nabi yang diduga ikut bersama orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan di Babel sekitar tahun 537 SM. Zakaria adalah nabi yang bersama Hagai mendorong orang-orang Yahudi membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah yang telah dirobohkan oleh Tentara Babel. Pembangunan Bait Allah dipandang penting karena Bait Allah menjadi pusat ibadah sekaligus menjadi lambang berkat Allah untuk umat Allah yang dipulihkan. Tema yang disampaikan dalam kitab Zakharia adalah Hari Tuhan, sama seperti yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, Amos,Hosea dan lain-lain.
Prikop bacaan ini berbicara tentang penyesalan dan pertobatan umat Tuhan. Bahwa sebelum tiba hari Tuhan ada hal yang harus diperhatikan oleh umat yakni menyesal dan bertobat.
Pada ayat 10 disebutkan bahwa Tuhan akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan ke atas keluarga Daud dan penduduk Yerusalem sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk untuk menyesali dosa dan bertobat. Keluarga Daud yang dimaksudkan disini adalah orang-orang yang kembali dari pembuangan di Babel yang disebutkan dalam Kitab Esra 2 :1-70 dan Nehemia 7:6-73. Sedangkan penduduk Yerusalem adalah orang-orang non Yahudi yang diungsikan dan tinggal di Yerusalem ketika orang-orang Israel dibuang ke Babel. Para pengungsi yang berdiam di Yerusalem itulah yang menolak untuk membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah sebagaimana disebutkan dalam Esra 4 : 4 dan Nehemia 6 :1. Memang e..dalam pembangunan apasaja termasuk pembangunan Bait Allah, Rumah Tuhan, Gereja atau pekerjaan fisik selalu saja ada pro dan kontra. Atau hal beribadah, bergereja juga ada jemaat yang tidak pernah sama sekali…hati mereka tertutup, mereka menolak. Ada jemaat yang suka berkelahi, suka comel dan omong yang tidak-tidak terhadap kordinator dll…nah orang-orang begini yang Tuhan perlu curahkan Roh Pengasihan
Pencurahan roh pengasihan dan roh permohonan itu membuat keluarga Daud dan penduduk Yerusalem memandang kepada dia yang tertikam sehingga mereka menangis dan meratap. Tangisan dan ratapan itu bukanlah tangisan dan ratapan yang biasa. Karena itu ditegaskan bahwa mereka meratap seperti meratapi anak tunggal atau anak sulung. Istilah ‘anak tunggal’ dan ‘anak sulung’ secara simbolis di sini hendak mengambarkan bahwa ratapan dan tangisan itu adalah sesuatu yang dilakukan secara mendalam dan sunguh-sungguh. Tangisan dan ratapan itu adalah tanda penyesalan yang serius tentang kesalahan dan dosa mereka. Penyesalan itu berasal dari isi hati yang paling dalam yang hanya bisa diketahui oleh Tuhan sang pemilik roh pengasinan dan roh Permohonan.
Namun, persoalan yang muncul disini adalah siapa yang tertikam? Ada penafsiran dari beberapa kelompok yang menduga bahwa ‘yang tertikam’ itu adalah orang-orang Yahudi yang tewas pada waktu pertempuran antara tentara Babel tentara Kerajaan Yehuda (masa sebelum pembuangan di Babel), maupun ketika raja Yunani yakni Alexander Agung menyerang Yerusalem pada tahun 332 SM (sesudah pembuangan di Babel). Belajar dari peristiwa-peristiwa itu, maka umat Yehuda (keluarga Daud) diingatkan untuk menyesal dan bertobat dari dosa-dosanya sehingga dikemudian hari mereka tidak mengalami nasib seperti itu.
Kemudian ada Kelompok yang menganalisa hubungan teks ini dengan teks lain dalam Alkitab. Mereka menemukan bahwa pada Yesaya 52: 1 – 53:12, disana ditemukan bahwa ‘yang tertikam’ itu adalah ‘hamba Tuhan yang menderita.’ Pada ayat 5 tertulis: “dia tertikam oleh pemberontakan kita, dia diremukan oleh pelanggaran kita. Karena itu mereka berpendapat bahwa apa yang dikemukakan oleh Zakaria sejajar dengan apa yang disebutkan Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita. Misteri itu semakin jelas ketika Yohanes berefleksi tentang Penyaliban Yesus, dia menegaskan bahwa peristiwa penikaman lambung Yesus (Yoh 19 : 37) adalah penggenapan terhadap apa yang dinubuatkan dalam Zakaria 12:10 : “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam”.
Bapak,ibu,saudara/i………………..
Yesus Kristus adalah hamba Tuhan yang menderita di atas kayu salib. Di Golgota lambung Yesus ditikam dan segera mengalir keluar darah dan air. Penikaman lambung Yesus bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga adalah simbol dari dosa manusia yang telah menusuk hati Allah. Air dan darah adalah tanda bahwa Allah mengasihi manusia karena itu Allah mau menghapus dosa manusia. Memandang pada dia yang tertikam mengingatkan dua hal. Pertama mengingatkan bahwa manusia menerima pengampunan dari Allah dan yang kedua mengingatkan bahwa manusia mesti menyesal dan mengaku dosa-dosanya yang menjadi penyebab Yesus mengalami penderitaan itu. Pengakuan dosa harus dilanjutkan dengan kemauan untuk bertobat. Pertobatan sejati hanya dimungkinkan melalui iman kepada Yesus Kristus. Karena itu Pertobatan berarti berbalik dari dosa dan berpaling kepada Kristus dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kesadaran akan dosa dan kemauan untuk bertobat hanya terjadi apabila Allah mencurahkan RohNya ke atas manusia. Roh Allah adalah tanda anugrah dari Allah. Manusia tidak dapat berbalik kepada Allah tanpa campur tangan Ilahi. Pertobatan adalah tindakan Allah bukan semata-mata tindakan manusia, Manusia tidak dapat berinisiatif untuk berbalik kepada Allah Tetapi Allah sendirilah yang menarik manusia kepada-Nya. Pertobatan bukan inisiatif manusia tapi merupakan respons manusia terhadap anugerah Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus.
Sengsara Kristus di kayu salib bukanlah sekadar peristiwa sejarah, melainkan penggenapan rencana penebusan Allah bagi umat manusia.
Setiap orang diajak untuk bertobat dan percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Dengan mencurahkan Roh-Nya, Allah tidak hanya menginsafkan manusia akan dosa, tetapi juga menarik mereka kepada kasih- Nya yang mengubahkan. Oleh karena itu, respons yang benar terhadap pengorbanan Kristus adalah pertobatan yang sungguh-sungguh dan hidup yang diperbarui dalam iman.
Kita merenungkan kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui Kristus yang tertikam. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi bukti nyata kasih Allah yang menebus. Hanya melalui pengakuan dosa dan penyerahan diri kepada karya Kristus di salib, manusia dapat menerima anugerah pengampunan dan hidup yang diperbarui.
Diminggu sengsara ke III ini, mari kita memandang pada Dia yang tertikam di Salib, di Salib kasih menang atas kebencian. Di Salib Yesus, ketaatan menang atas pemberontakan. Di Salib Yesus, kerelaan menang atas keegoisan. Di salib, kekudusan menang atas dosa, maka mari kita berkomitmen hidup kudus, mengasihi, menderita dengan benar. Biarlah Salib merubah hidup kita menjadi berkat bagi semua orang dengan hati dan iman yang terarah kepada Tuhan. Amin!!
Pdt. Aksamina A.K. Nenogasuh, S.Th