Uncategorized

Keluarga Yang Hidup Dalam Kebaikan

Bacaan Alkitab: Amsal 3:27–35

Bapak, ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, setiap keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk hidup dalam kasih, tetapi juga menjadi saluran kebaikan bagi sesama. Dunia kita saat ini semakin keras dan individualistis. Banyak orang lebih mementingkan diri sendiri, mengejar keuntungan pribadi, dan melupakan kepedulian terhadap orang lain. Di tengah situasi seperti itu, Firman-Nya dalam Amsal 3:27–35 memanggil kita untuk kembali hidup dalam kebaikan, bukan sekadar dalam ucapan, melainkan dalam tindakan nyata yang lahir dari hati yang mengenal kasih Allah.

 “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi, sedangkan yang diminta ada padamu.” Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang boleh ditunda.

Ketika Tuhan memberi kita kemampuan dan kesempatan untuk menolong, maka itulah saatnya untuk bertindak. Keluarga yang hidup dalam kebaikan adalah keluarga yang tidak menahan berkat yang bisa dibagikan kepada orang lain. Mereka tidak menunggu waktu yang sempurna untuk berbuat baik, sebab kebaikan sejati tidak bergantung pada kelimpahan, tetapi pada kerelaan hati.

Sering kita menunda kebaikan dengan alasan “belum sempat” atau “nanti kalau ada rezeki lebih.” Padahal, firman Tuhan dengan tegas mengatakan agar kita tidak menahan kebaikan ketika kita mampu melakukannya. Kebaikan sederhana seperti mendoakan tetangga yang sakit, membantu orang tua di gereja, atau menyambut tamu dengan ramah, merupakan wujud nyata kasih Kristus di tengah dunia.

Amsal selanjutnya menasihati: “Janganlah merancang kejahatan terhadap sesamamu yang diam dengan tenteram di dekatmu. Janganlah bertengkar tanpa alasan dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.”  Keluarga yang hidup dalam kebaikan tidak hanya aktif menolong, tetapi juga menjaga kedamaian dengan sesama. Hidup dalam kebaikan berarti hidup dalam damai. Banyak keluarga kehilangan damai sejahtera bukan karena masalah besar, tetapi karena hal-hal kecil yang dibiarkan menimbulkan pertengkaran dan kecurigaan. Firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak merancang kejahatan, tidak menyimpan dendam, dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.

Dalam kehidupan modern, “merancang kejahatan” bisa berarti menjelekkan orang lain, atau menimbulkan fitnah yang merusak nama baik sesama. Keluarga Kristen yang hidup dalam kebaikan akan menolak untuk terlibat dalam hal-hal seperti itu. Mereka memilih menjadi pembawa damai, bukan penyebar perpecahan.

Kemudian: “Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, karena orang yang sesat adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” Ayat ini berbicara tentang bahaya iri hati. Dalam dunia yang penuh dengan persaingan, kita sering tergoda untuk iri terhadap keberhasilan orang lain, apalagi jika keberhasilan itu diperoleh dengan cara yang tidak benar. Banyak keluarga terjebak dalam pola hidup membandingkan diri dengan tetangga—melihat rumahnya lebih besar, atau penghasilannya lebih tinggi—sehingga lupa bersyukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan.

Keluarga yang hidup dalam kebaikan menolak iri hati dan kesombongan. Mereka percaya bahwa jalan orang benar selalu dijaga oleh Tuhan. Walau hidup sederhana, rumah mereka penuh dengan kasih dan damai. Mereka tidak menilai kebahagiaan berdasarkan banyaknya harta, tetapi pada kehadiran Tuhan di tengah keluarga. Orang tua yang menanamkan nilai kejujuran dan kesederhanaan kepada anak-anaknya sedang membangun fondasi rohani yang kuat. Mereka menunjukkan bahwa integritas lebih berharga daripada kekayaan, dan kebenaran lebih mulia daripada popularitas.

Lebih lanjut dalam ayat 33–35: “Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. Sesungguhnya, orang yang rendah hati akan menerima hormat, tetapi orang bebal akan menuai cemooh.” Di sini kita melihat kontras yang jelas antara dua tipe keluarga: rumah orang fasik dan rumah orang benar. Rumah orang fasik mungkin megah, perabotannya mahal, tetapi tidak ada damai di dalamnya. Sebaliknya, rumah orang benar mungkin sederhana, namun dipenuhi sukacita dan kasih. Sebab berkat Tuhan tidak bergantung pada kemewahan, tetapi pada ketaatan dan kebaikan hati.

Keluarga yang hidup dalam kebaikan akan menikmati hadirat Allah dalam rumah tangganya. Mereka mengalami penyertaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan—dalam pekerjaan, dalam pendidikan anak-anak, dalam kesehatan, dan dalam relasi dengan orang lain. Mereka menyadari bahwa setiap berkat datang dari Tuhan, sehingga hidup mereka dipenuhi rasa syukur. Sikap rendah hati menjadi ciri khas keluarga seperti ini. Mereka tidak sombong atas kebaikan yang telah dilakukan, sebab mereka tahu bahwa segala sesuatu hanyalah oleh kasih karunia Tuhan.

Kerendahan hati membuat keluarga tersebut terus belajar dan memperbaiki diri. Mereka tidak malu untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf satu sama lain. Suami dan istri saling menghormati, anak-anak taat kepada orang tua, dan semua hidup dalam saling mengasihi. Di dalam rumah seperti itu, kebaikan bukan hanya diajarkan, tetapi menjadi kebiasaan yang alami. Rumah mereka menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang datang—sebuah oase kasih di tengah dunia yang haus akan kebaikan.

Bapak,ibu, Saudara-saudari yang terkasih, dari seluruh nasihat dalam Amsal 3:27–35 ini, kita dapat belajar beberapa hal penting bagi kehidupan keluarga masa kini :

  1. Berbuat baiklah tanpa menunda. Jika ada kesempatan untuk menolong, lakukanlah segera. Kebaikan yang ditunda seringkali menjadi kebaikan yang hilang.
  2. Jagalah hubungan baik dengan sesama. Jangan mudah tersinggung dan jangan menyimpan dendam.
  3. Ajarkan nilai kejujuran dan kerendahan hati kepada anak-anak. Dunia bisa berubah, tetapi kebenaran tetap kekal.
  4. Jauhilah iri hati. Belajarlah bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
  5. Bangunlah altar keluarga—doa bersama, membaca firman, dan saling menguatkan dalam kasih. Semua itu akan menumbuhkan kebaikan yang sejati di tengah keluarga kita.

Keluarga yang hidup dalam kebaikan adalah keluarga yang menjadi terang bagi lingkungan sekitarnya. Orang lain akan melihat dan merasakan perbedaan. Mereka akan berkata, “Rumah itu penuh kasih, orang-orang di dalamnya baik dan ramah.” Itulah kesaksian yang sejati, bukan dari kata-kata, tetapi dari kehidupan sehari-hari. Ketika kita hidup dalam kebaikan, kita sedang memantulkan kasih Kristus kepada dunia yang penuh kegelapan.

Oleh karena itu, marilah kita memohon agar Tuhan menjadikan setiap rumah tangga/keluarga kita sebagai tempat di mana kasih dan kebaikan Allah dinyatakan. Jadikan rumah kita bukan sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas, tetapi tempat di mana hati yang lelah dapat menemukan penghiburan, di mana setiap orang yang datang dapat merasakan kehangatan kasih Tuhan.

Tuhan menolong kita semua menjadi keluarga yang hidup dalam kebaikan setiap hari, hingga dunia melihat Kristus melalui kehidupan kita. Amin.

Penulis : BP4J Gmit Enkurio Ianabuk

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.

Login

Register

terms & conditions