Jiwa yang Tertekan, Berharaplah kepada Allah
KHOTBAH MINGGU
Tema: Jiwa yang Tertekan, Berharaplah kepada Allah
Bacaan Alkitab: Mazmur 42
Hari/Tanggal: Minggu, 1 Februari 2026
Oleh : Pdt. Akasamina A. K. Nenogasu, S.Th
PENDAHULUAN
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Mazmur 42 adalah mazmur yang sangat manusiawi. Di dalamnya kita tidak menemukan kata-kata yang indah dan manis saja, tetapi jeritan hati, air mata, rasa kehilangan, tekanan batin, dan pergumulan iman yang nyata. Pemazmur tidak sedang berpura-pura kuat. Ia jujur mengakui bahwa jiwanya tertekan, gelisah, dan hampir putus asa.
Banyak di antara kita mungkin datang ke ibadah hari ini dengan kondisi yang sama. Secara fisik kita hadir di gereja, tetapi jiwa kita sedang lelah. Ada yang tertekan oleh masalah ekonomi, konflik keluarga, kesehatan yang menurun, masa depan anak-anak, pelayanan yang berat, bahkan pergumulan iman. Kita bertanya: “Di manakah Allah?”
Mazmur 42 mengajarkan kepada kita satu hal penting: orang beriman juga bisa tertekan, tetapi ia tidak berhenti berharap kepada Allah.
I. JIWA YANG MERINDUKAN ALLAH DI TENGAH TEKANAN (Mazmur 42:2–3)
“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.”
Pemazmur memakai gambaran rusa yang kehausan. Rusa yang sedang dikejar atau berada di padang kering tidak membutuhkan apa-apa selain air. Jika tidak menemukan air, ia akan mati. Begitulah kondisi batin pemazmur. Yang ia butuhkan bukan solusi instan, bukan pembelaan manusia, tetapi kehadiran Allah sendiri.
Tekanan hidup sering membuat kita haus secara rohani. Kita mungkin tetap bekerja, melayani, dan beraktivitas, tetapi jiwa kita kering. Doa terasa hambar, ibadah terasa biasa saja, firman Tuhan tidak lagi menyentuh hati.
Pemazmur berkata: “Air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Artinya, kesedihan itu bukan sesaat. Tekanan itu berlangsung terus-menerus. Bahkan ada suara ejekan: “Di mana Allahmu?”
Saudara-saudari, pertanyaan ini juga sering muncul dalam hidup kita. Ketika doa belum dijawab, ketika keadaan tidak berubah, ketika penderitaan berkepanjangan, kita mulai bertanya: “Tuhan, di mana Engkau?”
Namun justru di tengah tekanan itulah, pemazmur tidak lari dari Allah, melainkan merindukan Allah.
II. MENGINGAT KESETIAAN ALLAH DI MASA LALU (Mazmur 42:5)
“Inilah yang kuingat sebagai curahan isi hatiku, yakni bagaimana aku berjalan di tengah-tengah orang banyak, mengiring mereka ke rumah Allah…”
Ketika jiwanya tertekan, pemazmur mengingat kembali masa-masa indah bersama Allah. Ia mengingat ibadah, pujian, sorak-sorai umat, dan persekutuan yang penuh sukacita.
Mengapa ini penting? Karena ingatan akan kesetiaanAllah di masa lalu menolong iman kita bertahan di masa kini.
Sering kali saat tertekan, kita hanya fokus pada masalah hari ini dan lupa bahwa Allah pernah menolong kita sebelumnya. Kita lupa bahwa Tuhan yang sama yang menyertai kita dahulu, masih menyertai kita sekarang.
Dalam konteks jemaat dan kehidupan keluarga, kita pun diajak untuk mengingat:
- Tuhan yang pernah membuka jalan,
- Tuhan yang pernah menyembuhkan,
- Tuhan yang pernah mencukupkan,
- Tuhan yang pernah menguatkan.
Mengingat karya Allah bukan membuat kita hidup di masa lalu, tetapi meneguhkan iman untuk melangkah ke depan.
III. BERBICARA KEPADA DIRI SENDIRI DENGAN IMAN (Mazmur 42:6, 12)
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”
Ini adalah bagian yang sangat kuat. Pemazmur berdialog dengan jiwanya sendiri. Ia tidak membiarkan perasaannya menguasai dirinya, tetapi ia menegur dan mengarahkan jiwanya kepada Allah.
Pemazmur tidak menyangkal kenyataan bahwa jiwanya tertekan. Ia mengakuinya. Tetapi ia juga tidak membiarkan tekanan itu menentukan akhir ceritanya. Ia berkata: “Berharaplah kepada Allah!”
Saudara-saudari, ini pelajaran iman yang penting. Ketika tekanan datang:
Jangan hanya mendengar suara ketakutan,
- Jangan hanya mengikuti perasaan,
- Jangan hanya mengulang keluhan.
Belajarlah berkata kepada diri sendiri dengan iman:
- “Tuhan masih setia.”
- “Tuhan belum selesai.”
- “Aku tidak sendirian.”
- “Pengharapanku ada pada Allah.”
Harapan kepada Allah bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi harapan itu menjaga jiwa kita tetap hidup.
IV. ALLAH ADALAH PENOLONG DAN KESELAMATAN KITA (Mazmur 42:9–11)
Pemazmur jujur mengungkapkan keluhannya kepada Allah. Ia merasa seolah-olah Allah melupakannya. Tetapi di tengah keluhan itu, ia tetap mengakui siapa Allah baginya: penolong dan keselamatannya.
Iman sejati bukan iman yang tidak pernah bertanya, tetapi iman yang tetap berpaut kepada Allah meskipun sedang bertanya.
Dalam Kristus, pengharapan itu menjadi nyata. Yesus sendiri pernah mengalami tekanan batin, kesedihan, dan penderitaan. Di kayu salib Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Namun melalui penderitaan itu, Allah menghadirkan keselamatan bagi kita.
Karena itu, kita boleh yakin: Allah tidak meninggalkan jiwa yang berharap kepada-Nya.
PENUTUP
Saudara-saudari yang terkasih,
Mazmur 42 mengajarkan kepada kita bahwa:
- Jiwa orang beriman bisa tertekan,
- Air mata bisa mengalir,
- Pertanyaan bisa muncul,
tetapi pengharapan kepada Allah tidak boleh padam.
Jika hari ini jiwa kita sedang lelah, firman Tuhan berkata:
“Berharaplah kepada Allah, sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya.”
Mari kita datang kepada Tuhan apa adanya. Jangan sembunyikan luka, jangan memendam tekanan sendirian. Serahkan jiwa kita kepada Allah yang setia.
Kiranya di tengah tekanan hidup, jiwa kita tetap menemukan harapan di dalam Tuhan. Amin.