Uncategorized

Bersaksi tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Luka

Bersaksi tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Luka

Bacaan Alkitab: Mazmur 89:1–19
Subtema Sinode GMIT 2026: Bersaksi tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Luka

Oleh Pdt. Aksamina A. K. Nenogasu, S.Th

KMJ GMIT Enkurio Ianbuk

Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
kita hidup di dalam dunia yang penuh luka. Luka itu hadir dalam berbagai bentuk. Ada luka sosial akibat ketidakadilan. Ada luka ekonomi karena kemiskinan dan ketimpangan. Ada luka relasi karena kekerasan dan perpecahan. Bahkan alam ciptaan pun terluka oleh eksploitasi yang berlebihan.

Namun, di tengah dunia yang luka itu, gereja tidak dipanggil untuk diam atau putus asa. Gereja dipanggil untuk bersaksi. Kesaksian itu berakar pada iman kepada Allah yang setia.

Mazmur 89:1–19 mengajak kita melihat bahwa kesetiaan Allah tidak pernah berhenti. Kesetiaan itulah yang menjadi sumber harapan dan kekuatan bagi umat Tuhan untuk tetap berdiri dan melayani.

Kesetiaan Allah sebagai Dasar Kesaksian Iman

Pemazmur membuka mazmur ini dengan pengakuan iman yang kuat. Ia berkata bahwa ia akan menyanyikan kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya. Kesetiaan Allah tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi harus diberitakan kepada generasi demi generasi.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa iman tidak lahir dari situasi yang sempurna. Iman justru tumbuh ketika umat berani mengingat dan mengakui kesetiaan Allah di tengah pengalaman hidup yang tidak selalu mudah.

Oleh karena itu, kesaksian gereja tidak berangkat dari kehebatan manusia. Kesaksian gereja berangkat dari pengalaman bersama Allah yang setia. Ketika manusia berubah, Allah tetap setia pada janji-Nya.

Kesetiaan Allah yang Berdaulat di Tengah Kekacauan Dunia

Pemazmur kemudian memuji kebesaran Allah yang berdaulat atas langit dan bumi. Tuhan digambarkan sebagai Raja yang menguasai laut yang bergelora. Ia menaklukkan kekacauan dan kuasa yang mengancam kehidupan.

Gambaran ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Dunia sering kali terasa seperti laut yang bergelora. Konflik, krisis, dan penderitaan datang silih berganti. Namun firman Tuhan menegaskan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali.

Dengan demikian, gereja tidak boleh menyerah pada keputusasaan. Gereja bersaksi bahwa Allah tetap memerintah dengan keadilan dan kebenaran, sekalipun dunia tampak tidak menentu.

Kesetiaan Allah sebagai Sumber Harapan dan Kekuatan

Mazmur ini juga menyatakan bahwa berbahagialah umat yang berjalan dalam terang wajah Tuhan. Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada keadaan yang bebas masalah. Kebahagiaan lahir dari relasi yang hidup dengan Allah yang setia.

Kesetiaan Allah memberi kekuatan bagi umat untuk terus melangkah. Di tengah luka, umat Tuhan tetap dipanggil untuk hidup, melayani, dan bersaksi. Harapan tidak lahir dari situasi, tetapi dari Allah yang menyertai.

Oleh sebab itu, subtema pelayanan GMIT tahun 2026 mengingatkan kita bahwa dasar pengharapan gereja bukanlah dunia yang sempurna, melainkan Allah yang setia.

Bersaksi dalam Praksis Kehidupan Gereja

Bersaksi tidak berhenti pada kata-kata. Bersaksi berarti menghidupi kesetiaan Allah dalam tindakan nyata.

Gereja dipanggil untuk:

  • Menghadirkan harapan di tengah luka masyarakat
  • Menjadi suara bagi mereka yang terluka dan terpinggirkan
  • Merawat ciptaan Allah yang rusak

Ketika gereja hadir sebagai sahabat bagi yang menderita, gereja sedang bersaksi. Ketika gereja berani menyuarakan keadilan, gereja sedang memancarkan kesetiaan Allah. Ketika gereja merawat lingkungan hidup, gereja sedang menghidupi iman secara utuh.

Menyalakan Terang Kesetiaan Allah di Tengah Dunia yang Luka

Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai terang dunia. Terang tidak diciptakan untuk dirinya sendiri. Terang hadir untuk mengusir kegelapan.

Demikian juga kesaksian gereja. Bersaksi berarti menyalakan terang kesetiaan Allah di tengah dunia yang luka. Terang itu tampak ketika gereja memilih kasih di tengah kebencian. Terang itu nyata ketika gereja memilih pengharapan di tengah keputusasaan.

Kesaksian gereja bukanlah tentang kesempurnaan. Kesaksian gereja adalah tentang Allah yang setia menyertai umat-Nya yang rapuh.

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,
Mazmur 89 mengajak kita untuk mengingat dan memberitakan kesetiaan Allah. Di tengah dunia yang luka, gereja dipanggil untuk tetap bersaksi dengan iman yang teguh.

Kiranya melalui hidup dan pelayanan kita, terang kesetiaan Allah semakin nyata. Kiranya gereja menjadi tanda harapan, suara keadilan, dan perawat ciptaan Tuhan.

Allah yang setia itu menyertai kita sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.

Login

Register

terms & conditions