Berita Gereja, Renungan Ibadah Minggu

Renungan Minggu Sengsara ke IV – Teladan Merendahkan Diri dan Melayani

Bacaan Alkitab : Yohanes 13:1-20

Tanggal : 23 Maret 2025 ( Minggu Sengsara ke IV )

Tema : “ Teladan Merendahkan Diri dan Melayani “

Bapak,ibu,saudara-saudari………………..

Hari ini kita memasuki Minggu Sengsara Yesus yang ke Empat. Di minggu ke Tiga yang lalu kita diajak untuk “Memandang Dia Yang Tertikam”. Hari ini, kita merenungkan kisah Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dalam terang tema “Teladan Merendahkan Diri dan Melayani.”  Merendahkan diri memampukkan seseorang membungkuk didepan orang dan melayani.

Dulu, di kaki Gunung Merapi, tepatnya di daerah Kaliurang, terdapat Seorang Si Mbok penjual beras yang setiap harinya berjualan di pasar Kranggan, kota Yogyakarta. Suatu pagi, dia berdiri di tepi jalan menanti kendaraan JIP yang hendak menuju ke Kota. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah Mobil JIP yang sedang bergerak ke selatan, Kemudian tangannya melambai-lambai dan mobil itu pun berhenti. Si Mbok ini memang sudah biasa menumpang kendaraan JIP yang datang dari arah Utara ke Selatan, dan pulangnya pun dia selalu kembali menumpang JIP yang bertolak ke arah Utara.

Mobil JIP itu berhenti tepat di depan Si Mbok. Seperti biasanya, Si Mbok itu meminta sang supir untuk mengangkat beras bawaannya yang entah jumlahnya berapa karung. Supir itu menurutinya, dan Semua karung beras dinaikkannya di bagian belakang mobil JIP, Kemudian mereka meluncur menuju selatan.

Setibanya di pasar yang dituju, supir itu kembali membantu Si Mbok untuk menurunkan semua karung beras yang diangkut di atas JIP. Setelah semua karung beras selesai diturunkan, Si Mbok ini memberikan uang sebagai upah atas bantuan supir. Akan tetapi, dengan sopan, supir tersebut menolak pemberian uang dan mengembalikannya kepada Si Mbok. Karena uangnya dikembalikan, Si Mbok malah jadi marah-marah dan mengira bahwa supir ini meminta uang dengan jumlah yang lebih banyak. Si Mbok membanding-bandingkan supir ini dengan supir lainnya yang biasanya menerima uang pemberian Si Mbok. Tanpa membalas ocehan Si Mbok, supir ini menjalankan JIP-nya dan meninggalkan pasar.

Setelah JIP tersebut hilang dari pandangan mata, seorang polisi yang kebetulan sedang berada di pasar menghampiri Si Mbok dan bertanya. “Apakah Mbak-yu tahu siapa supir tadi.?

Masih dalam suasana hati yang kesal, Si Mbok itu menjawab, “Supir ya supir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang supir yang satu ini agak aneh.” Polisi itu menanggapi Si Mbok, “Kalau Mbak-yu belum tahu, akan saya kasih tahu. Supir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja di Ngayogyakarta ini.” Saat itu juga Si Mbok tadi pingsan dan jatuh ke tanah. Dia amat menyesali tindakannya yang tidak hormat terhadap supir JIP yang sesungguhnya adalah Rajanya.

Cerita tentang seorang Raja yang mengambil rupa sebagai rakyat biasa memang menjadi kisah yang menggugah hati. Rasanya ada sebuah Sukacita dan Harapan yang kembali hidup. Bagi orang biasa seperti kita, tentu adalah suatu kehormatan dan Sukacita yang besar apabila ada “Raja” yang kedudukannya jauh lebih tinggi dari pada kita sudi untuk hadir di tengah-tengah kita. Sebagai orang biasa, kita memiliki jarak yang sangat jauh dalam relasi kita dengan sang “Raja”. Kita ada di tempat yang rendah, sedangkan sang “Raja” ada di tempat yang mahatinggi. Namun, hati kita takjub bergetar manakala sang Raja yang dari tempat tinggi tersebut sudi melawat dan hadir secara nyata di tengah-tengah kita yang sejatinya ada di tempat yang rendah.

Yohanes 13:1-20, Di dalam ruang perjamuan terakhir, Yesus Sang Raja melakukan sesuatu yang mengejutkan, yaitu membasuh kaki murid-murid-Nya. Tuhan Yesus merendahkan diri dan ini bukan sekedar simbol, melainkan sebuah panggilan bagi kita untuk melayani seperti Kristus.

Sekarang dunia mengajarkan bahwa kebesaran berarti berkuasa, Yesus justru menunjukkan bahwa kebesaran sejati ditemukan dalam kerendahan hati dan pelayanan.

Ketika Yesus bangkit dari tempat duduk-Nya, menanggalkan jubah-Nya, mengambil Kain Lenan, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:4-5), Ia melakukan sesuatu yang mengejutkan. Sebab membasuh kaki adalah tugas seorang hamba, bukan tugas seorang guru, apalagi Tuhan. Namun, Yesus dengan sengaja memilih merendahkan diri demi menunjukkan esensi sejati dari kasih dan kepemimpinan.

Di dunia kuno, membasuh kaki adalah tugas budak. Itu adalah pekerjaan yang dianggap rendah. Namun, Yesus membalikkan tatanan sosial dan menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani. Melalui tindakan ini, Yesus mengajarkan bahwa otoritas sejati bukanlah tentang mengendalikan orang lain, tetapi tentang mengorbankan diri untuk kebaikan mereka

Melalui peristiwa pembasuhan kaki, Yesus mengajarkan suatu kebenaran penting: bahwa jalan menuju kemuliaan adalah melalui kerendahan hati dan pelayanan. Inilah yang harus dilakukan oleh para murid, karena seharusnya ketika mereka mengetahui bahwa tidak ada budak untuk membasuh kaki Yesus dan kaki mereka sendiri, harusnya mereka berinisiatif untuk menggantikan peran budak itu. Tetapi mengapa diantara mereka tidak ada yang memiliki inisiatif untuk melakukan hal tersebut?

Bapak,ibu,saudara/i…………

  1. Melalui kisah Yesus membasuh kaki para murid, kita belajar untuk hidup dalam kerendahan hati dan melayani dengan sepenuh hati. Jika Yesus yang adalah Tuhan telah merendahkan diri-Nya dan bersedia/berinisiatif menjadi hamba yang melayani dengan setia, maka kitapun sebagai pemimpin dalam segala aspek kehidupan (pemimpin gereja, pemerintahan, masyarakat, komunitas bahkan pemimpin dalam rumah tangga) harus merendahkan diri dan bersedia/berinisiatif untuk menjadi hamba yang melayani dengan setia melalui setiap tugas dan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan kepada kita.  “Jikalau seseorang ingin menjadi besar, maka mulailah dengan melayani yang terkecil.” Kiranya dalam mempersiapkan perayaan paskah Tahun ini kita dapat memberi diri di rayon-rayon dan gereja untuk mempersiapkan semua perayaan  dalam semangat kerendahan hati dan melayani dengan penuh ketulusan hati tanpa sungut-sungut dan terpaksa. 
  2. Pernyataan Yesus kepada Petrus kiranya menjadi permenungan tersendiri bagi kita agar kita dapat berkelakuan “bersih” setelah dibasuh oleh “darah” Yesus yang menyucikan seluruh hidup kita dari dosa.
  3. Yesus juga membasuh kaki Yudas yang akhirnya menghianati-Nya, menjadi permenungan yang dalam di minggu sengsara yang keempat ini agar kita tidak hanya melayani dengan sepenuh hati tetapi juga dengan penuh kasih seorang akan yang lain termasuk melayani orang yang tidak kita sukai (musuh kita). Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan/kasih. Mahatma Gandhi pernah berujar “Mata ganti mata hanya akan membuat seluruh dunia buta.” Kita tidak dapat melayani dengan memilah-milah dan membeda-bedakan satu dengan yang lain karena kita semua sama di mata Tuhan. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama, bahkan mereka yang sulit dikasihi.
  4. Kiranya teladan merendahkan diri dan melayani yang dilakukan Yesus menginspirasi kita semua untuk tidak berlaku sombong karena status sosial, ekonomi, kuasa dan jabatan yang kita miliki. Tetapi justru dengan semua yang kita miliki kita pakai (berinisiatif) untuk melayani dengan kasih. Pelayanan bukan tentang status, tetapi tentang kasih yang nyata.
  5. Pastikan kita melayani dengan hati yang tulus, bukan untuk keuntungan pribadi. Jangan seperti Yudas yang selalu bersama Yesus, tetapi hatinya “dibutakan” dengan keuntungan dan keinginan sesaat dan sesat.

Bapak,ibu,saudara…………….

Di Minggu sengsara yang keempat ini, kita dipanggil untuk merenungkan makna penderitaan Kristus yang penuh kasih. Pembasuhan kaki menunjukkan kerendahan hati, pelayanan, dan kasih yang sempurna.  Apakah kita sudah meneladani Kristus dalam melayani dengan kerendahan hati?  Mari  kita belajar dari-Nya, sebab kebesaran sejati ditemukan dalam kerendahan hati..Amin.

Penulis : Pdt. Aksamina A.K. Nenogasuh, S.Th

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.

Login

Register

terms & conditions