Tentang GMIT Enkurio Ianabuk
Jemaat GMIT Enkurio Ianabuk merupakan salah satu gereja anggota Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan berada di lingkungan Klasis Alor Barat Daya. Jemaat ini awalnya berna Jemaat Betel Ianabuk dan di ubah namanya menjadi Jemaat Enkurio Ianabuk lewat Sidang Jemaat Istimewa I pada tanggal 18 Oktober 2015 yang kemudian di sahkan lewat keputusan Majelis Sinode GMIT No. 115/SK-GMIT/I/2015 tertanggal 30 Oktober 2015..
Jemaat Enkurio Ianabuk terus berjalan maju, mengalami perubahan dan peningkatan selangkah demi selangkah, baik dari aspek kuantitas jemaat maunpun aspek pengembangan pelayanan/misi gereja sesuai visi dan misi GMIT
GMIT Jemaat Enkurio Ianabuk melalui program-program pelayanan dan pembangunannya melalui UPP kategorial, Komisi-komisi dan rayon serta BPPnya terus untuk menjadi jemat yang missioner, tangguh dan simpatik. Gereja ada sebagai persekutuan umat yang percaya kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat, gereja sebagai persekutuan umat yang terpanggil untuk menjadi saluran terang dan kasih Tuhan kepada dunia, gereja sebagai persekutuan umat yang saling mengasihi, saling menopang, saling menguatkan, harus terus menerus menyatakan panggilannya kepada dunia ini, kepada umat dan masyarakat di manapun ia bertumpu dan berada. Gereja ada bukan semata-mata untuk dirinya sendiri melainkan untuk menjadi agen pembawa damai sejahtera dan syalom Allah bagi umat manusia di sekitarnya dan di mana saja berada.
SEJARAH SINGKAT
Dalam tulisan ini, sejarah Jemaat GMIT Enkurio Ianabuk dibagi dalam 3 periode sejarah, yakni :
1. Periode Perintisan dan Pembentukan Jemaat (1922-1946)
2. Periode Pertumbuhan dan Pemeliharaan (1946-2010)
3. Periode Pendewasaan (2010-sekarang)
1. Periode Perintisan dan Pembentukan Jemaat(1922-1947)
Masuknya Gereja Protestan di Alor-Pantar ditandai dengan baptisan massal pertama di pantai Alor Kecil, pada tanggal 22 Agustus 1901, oleh seorang Pendeta Belanda bernama J.F.Niks (seorang pendeta NZG yang bekerja di Timor dari tahun 1874-1904). Sejak saat itu para pendeta belanda mulai ditempatkan di Alor Kecil untuk mengusahakan pekabaran injil.Agar penyebarluasan Injil dan kekristenan semakin maju di wilayah Alor-Pantar, maka Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah Kerk School atau Sekolah Gereja di Alor Kecil pada tanggal 17 Mei 1910.
Awal mulanya berdirinya GMIT Enkurio Ianabuk berawal dari berdirinya Pos Pelayanan di Marai’afeng sebagai cikal-bakal Jemaat GMIT Betel Ianabuk yang kemudian berubah nama menjadi Jemaat GMIT Enkurio Ianabuk sekarang, tidak terlepas dari sejarah berdirinya sekolah dan gereja di Kikilay pada tahun 1922.
Sejarah Gereja mencatat bahwa pekabaran Injil di Indonesia oleh Para misionaris Belanda selalu diawali dengan pendirian/pembukaan sekolah-sekolah Kristen di berbagai wilayah. Hal yang sama terjadi di beberapa wilayah Alor-Pantar (Tribuana). Untuk wilayah Alor Barat Daya, khususnyaMoru dan sekitarnya, didirikan Sekolah Dasar atau Volkschool di Kikilay pada tanggal 1 Agustus 1922.Pendirian sekolah ini merupakan usaha dari Ds. A Van Dalen, Pendeta Belanda yang ditempatkan di Alor Kecil untuk melanjutkan usaha Pekabaran Injil menggantikan Ds. A. Benkhuyzen yang dipindahkan ke Malang pada tahun 1921.
Di Sekolah ini para murid dididik dengan ajaran Kristen dan selanjutnya mereka disuruh untuk memberitakan Injil ke kampung-kampung dengan mengadakan Ibadah atau kumpulan kampung, Sekolah Minggu (Sunday school), dan lain-lain. Mereka kemudian menjadi Utusan Injil, Guru Jemaat dan pelayan-pelayan Gereja di berbagai tempat.Guru pertama sekolah kikilay adalah Guru Simon Sion. Selanjutnya ditempatkan sejumlah guru secara berturut-turut:Guru Isliko, Guru Petrus Adang, Guru Petrus Doeka, Guru Anderias Weni Daka. Jumlah murud angkatan pertama berjumlah 60 orang.Kepada mereka diajarkan ajaran Agama Kristen.Pada tahun yang ketiga, yakni tahun 1925, ke 60 murid tersebut dibabtis oleh Ds.Van Dalen sebagai anggota baptis pertama jemaat Kikilay.
Gereja dan Sekolah di Kikilay terus berjalan dengan segala kemajuan dan tantangannya. Pada tahun 1929, Guru Petrus Adang yang diangkat sebagai Inlandsch Leraar di Kikilay mulai menata pelayanan pekabaran injil dengan membuat pemetaan wilayah PI sebagai berikut:
| Pos PI I | : | berpusat di Kikilay, meliputi kampung Kikilay, Baafeng, Matoring, Fuimau, Batang, Lontilok, Puokal’afeng 1, karigapong. |
| Pos PI II | : | berpusat di Boimelang, meliputi kampung boimelang, woitaibi, puokalafeng 2, baumenima, boimalika, marai’afeng, bukuafeng. |
| Pos PI III | : | berpusat di Moeng, meliputi kampung moeng, moru, abora, domaafeng, bukumelang, mol’om, bang lafining. |
| Pos PI IV | : | berpusat di Watakika, meliputi kampung watakika, bang doita, inta, folangkai, tamalpei, dopbang |
Berdasarkan pemetaan di atas, maka kampung Maraiafeng berada dalam POS Pekabaran Injil II di Boimelang (sekarang Jemaat Imanuel Maiwal).Gereja Pos Boimelang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1932 oleh Pdt.Petrus Adang.
Keempat Pos PI tersebut dilayani oleh Inlandsch Leraar Petrus Adang dan utusan Injil Alexander Pulinggomang.Pada tahun 1931 sekolah dipindahkan ke kampung Moeng.Pusat jemaatpun berpindah dari kikilay ke moeng.Ibadah-Ibadah Minggu dan hari raya gerejawi diadakan di moeng; sedangkan kumpulan kampung diadakan di setiap kampung dari hari senin sampai jumat.
Pada tahun 1932, datanglah utusan dari kampung boimelang yakni bapak Matheos Manipada dan bapak Malaikoli meminta kepada pendeta Petrus Adang merestui pendirian gereja di kampung boimelang. Pendirian gereja dilaksanakan pada 31 Oktober 1932.Pelayanan dilaksanakan oleh utusan injil Alexander Pulinggomang dibantu oleh penatua Matheos manipada dan kawan-kawan.Jemaat Boimelang ini membawahi 9 kampung termasuk di dalamnya kampungMarai’afeng.Guru Injil Alexander Pulinggomang memimpin jemaat ini hanya 3 bulan karena harus melanjutkan pendidikan di So’E.Jemaat selanjutnya dilayani oleh Guru Injil Urbanus Dontoli sampai tahun 1933.Pada tahun 1933-1942 jemaat dilayani oleh Guru Injil Thomas Koilal.Pada masanya pelayanan jemaat dan sekolah minggu berjalan di 9 kampung secara baik.Ia dibantu oleh 2 orang penatua, yakni Penatua Lazarus Pakoni dan Penatua Adam Fanmani.
Ketika pelayanan di kampung-kampung ini mulai mendapat titik cerah, hambatan besarpun timbul menghadang Gereja Tuhan.Jepang menaklukkan belanda di Indonesia dan sepenuhnya menguasai negeri ini. Tahun 1942 – 1945, atau selama 3 tahun lamanya Jepang menjajah Indonesia; dan dalam kurun waktu ini gereja-gereja ditutup, para mesionaris ditangkap dan dibuang ke berbagai tempat; bahkan banyak yang dibunuh. Misalnya, Pendeta Riwu dan Pendeta Dekuanan ditangkap dan dibuang di laut “mulut kumbang”.Ini merupakan masa kelam bagi gereja termasuk gereja-gereja yang ada di Alor-Pantar.Gereja di kampung boimelang pun terhenti dan guru Injil Thomas Koilal kembali ke kampungnya, Probur.
Setelah 3 tahun gereja dihimpit, akhirnya titik cerah kembali nampak. Menurut catatan Pendeta Salmon Lukas Oiladang, Pada tahun 1946, pendeta belanda, Ds. M. Molema diutus kembali ke Kalabahi sebagai predikan Alor untuk mengatur kembali pelayanan di Alor-Pantar.Maka diadakan Sidang Afdeelingrad pada tahun itu dan salah satu hal yang diputuskan adalah penempatan tenaga pelayan untuk Jemaat Resort Fo’ang sebagai berikut :
- Utusan Injil Jonathan Mau ditempatkan di Watakika untuk Jemaat Cabang Watakika.
- Utusan Injil Piter Bella dipindahkan dari Jemaat Beswatang ke Boimelang untuk Jemaat Cabang Boimelang.
- Utusan Injil Salmon Lukas Oiladang ditempatkan di Matoring (1947) untuk Jemaat Cabang Kikilay.
Gereja Cabang Boimelang dibuka kembalisetelah penempatanGuru Injil Piter Bella.Gereja mulai dibenah dan ditata lebih baik, 9 kampung yang berada di bawah gereja cabang Boimelang dijadikan Pos Pelayanan. Dengan demikian setiap kampung harus mendirikan gereja-gereja kecil sebagai Pos pelayanan yang akan dipimpin oleh para Penatua.
Untuk menyambut maksud baik tersebut, maka tua-tua kampung Marai’afeng, antara lain bapak Matheos Mabilegi, bapak Karel Kamutlaka, bapak Anderias Manisoma, bapak Marten Maukafola, bapak Petrus Lahalau (Palaikari), bapak Anderias Langkalong, bapak Karel Atamalai dan bapak Isak Karmani, bersepakat untuk mendirikan gereja di Marai’afeng. Hal itu mendapat persetujuan Pendeta Petrus Adang sebagai pendeta resort Fo’ang sehingga jemaat mendirikan gereja. Pada tanggal 12 Mei 1946 yang jatuh tepat pada hari Minggu, Pendeta Petrus Adang bersama Utusan Injil Piter Bella, para Kepala Kampung, yakni bapak Petrus Lehalau dan bapak Karel Kamutlaka, bersama seluruh warga jemaat yang tersebar di 6 kampung sekitar Marai’afeng mengadakan ibadah persemian gereja sekaligus ibadah minggu pertama di Marai’afeng. Tanggal peresmian gereja di Marai’afeng ini kemudian ditetapkan menjadi tanggal berdirinya Gereja Ianabuk.
Gereja Marai’afeng yang berstatus sebagai Pos Pelayanan dari Jemaat Cabang Boimelang ini dipimpin oleh Penatua Mateos Mabilegi dibantu oleh penatua Bernadus Gamerakai, penatua Lodewik Akalau.Untuk kelancaran pelayanan diangkat juga 2 orang Koster, yakni bapak Loalou dan bapak Alomalai. Akhirnya, Gereja Marai’afeng menjadi salah satu gereja resmi dalam wilayah Jemaat Cabang Boimelang, kependetaan resort Fo’ang di bawah pimpinan Pendeta Petrus Adang.
2. Periode Pertumbuhan & Pemeliharaan Jemaat (1946-2010)
Gereja Pos Maraiafeng telah diresmikan pada tanggal 12 Mei 1946.KeberadaanGereja di Marai’afeng tidak bertahan lama. Pada tahun 1949, ada upaya konsentrasi massa oleh pemerintah ke wilayah pesisir, tepatnya di sekitar Moru. maka seiring dengan itu warga jemaat berpindah ke pesisir. Seiring dengan perpindahan penduduk Marai’afeng ke pesisir, tepatnya di Ianabuk, maka gedung gerejapun dibongkar dan dibangun di Ianabuk dengan nama Gereja Betel Ianabuk.
Pada tanggal 31 Oktober 1947 GMIT berdiri, Wilayah Alor-Pantar menjadi salah satu Klasis dari 6 Klasis di GMIT.Pasca berdirinya GMIT penataan wilayah terus terjadi di mana-mana. Pada tahun 1952, pusat Jemaat Resort Fo’ang dipindahkan ke Habula dan pada Sidang Klasis Alor Barat Daya tanggal 10 Maret 1962 di Habula, Jemaat Resort Fo’ang berubah nama menjadi Wilayah Pelayanan Duitalel.
Wilayah Pelayanan Duiltalel dibagi menjadi 3 sektor pelayanan, yakni :
- Sektor 1 terdiri dari Habula dan Kikilay (bersama semua mata jemaatnya, termasuk mata jemaat Betel Ianabuk).
- Sektor 2 adalah Wowal dan semua mata jemaatnya.
- Sektor 3 adalah Maiwal dan semua mata jemaatnya.
Sidang Majelis Jemaat Wilayah Pelayanan Duiltalel pada tanggal 2 September 1982 di Mata jemaat Inta, Sektor Wolwal, memutuskan pemekaran wilayah pelayanan Duiltalel menjadi 2 Jemaat Wilayah, yakni :
- Jemaat Wilayah Habula berpusat di Habula meliputi 2 Mata Jemaat, yakni Habula dan Moramam.
- Jemaat Wilayah Duiltalel berpusat di Kikilay meliputi jemaat sektor Kikilay, sektor Maiwal dan sektor Wolwal dengan jumlah 12 Mata jemaat; termasuk Mata Jemaat Betel Ianabuk.
Pada Sidang Klasis Alor Barat Daya di wilayah Probur tanggal 12 Agustus 1985 ditetapkan bahwa Jemaat Wilayah yang luas supaya dimekarkan. Jemaat Wilayah Duiltalel merupakan salah satu jemaat wilayah yang luas, maka dimekarkan menjadi 3 jemaat wilayah, yakni:
- Jemaat Wilayah Talitakumi berpusat di Kikilay meliputi mata jemaat Pniel Kikilay, Betel Ianabuk, Kolam Afalsia, Lomaafeng, Loutapati dan Takak.
- Jemaat Wilayah Wolwal terdiri dari 3 mata jemaat.
- Jemaat Wilayah Maiwal terdiri dari 4 mata jemaat.
Mata Jemaat Betel Ianabuk menjadi bagian dari Jemaat Wilayah Talitakumi yang berpusat di Kikilay hingga tahun 2010.
3. Periode Pendewasaan Jemaat (2010-sekarang)
Tonggak sejarah penting yang mengawali periode ini adalah pemandirian Mata Jemaat Betel Ianabuk menjadi Jemaat Mandiri atau Jemaat Tunggal pada tahun 2010.Pada masa kepemimpinan Pdt. Advensius D. Gomang,S.Th, Mata Jemaat Ianabuk dimandirikan menjadi Jemaat Mandiri oleh Majelis Sinode GMIT terhitung tanggal 1 Maret 2010, melalui SK MS GMIT No.005/SK/MS-GMIT/2010 tertanggal 24 Pebruari 2010. Ibadah pemancangan papan nama pemandirian jemaat dilasanakan pada tanggal 12 Mei 2010 bertepatan dengan ulang tahun jemaat.
Dengan pemandirian jemaat Ianabuk tersebut maka pelayanan jemaat terus ditata dan dikembangkan dari waktu ke waktu.Wilayah pelayanan dibagi menjadi 5 rayon dan 1 Pos pelayanan.
Pada tahun 2014/2015 terjadi perselisihan akibat pembangunan gedung kebaktian, sehingga 13 KK di rayon 3 waktu itu memutuskan untuk keluar dan kemudian mendirikan gereja yang sekarang adalah Mata Jemaat Gerbang Indah Pailelang. Akibat dari itu maka wilayah pelayanan ditata ulang, sisa anggota jemaat rayon 3 dan rayon 4 dilebur menjadi 1 rayon.Maka rayon pelayanan yang semula berjumlah 5 rayon menjadi 4 rayon pelayanan.
Dalam Persidangan Majelis Jemaat tahun 2015 diusulkan supaya nama jemaat dirubah dari Betel Ianabuk menjadi Enkurio Ianabuk. Terjadi perselisihan akibat pergantian nama dimaksud; dan pada Oktober 2015 diadakan Sidang Istimewa Jemaat dan memutuskan nama jemaat berubah menjadi Enkurio Ianabuk. Perselisihan terus berlanjut dimana 4 kepala keluarga tidak menyetujui perubahan dimaksud dan menyatakan diri keluar dari jemaat dan mendirikan gereja/denominasi baru.
Pada persidangan Majelis Jemaat tahun 2016, ke 4 rayon itu diberi nama sbb :
- Rayon 1 menjadi Rayon Ekklesia
- Rayon 2 menjadi Rayon Agape
- Rayon 3 menjadi Rayon Kalvari
- Rayon 4 menjadi Rayon Petra
Ditengah berbagai dinamika pelayanan jemaat, Gedung kebaktian yang direhab sejak oktober 2014 terus dikerjakan oleh Panitia, tukang dan jemaat. Rehabilitas gedung kebaktian berlangsung kurang lebih 8 tahun dan tepatnya tanggal 4 Oktober 2022, Gedung Kebaktian diresmikan dan ditahbiskan oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery L.Y. Kolimon dan Bupati Alor Drs. Amon Djobo. Jemaat Enkurio Ianabuk terus berjalan maju, mengalami perubahan dan peningkatan selangkah demi selangkah, baik dari aspek kuantitas jemaat maunpun aspek pengembangan pelayanan/misi gereja sesuai visi dan misi GMIT. Jemaat Enkurio Ianabuk memiliki 1 unit Paud sebagai wadah pendidikan anak usia dini yang diberi nama Paud Enkurio, didirikan pada tanggal 4 Maret 2019.